Polri Buru Otak Penggerak Sekaligus Penyandang Dana Mastermind JAD di Indonesia

209

Jakarta – Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen. Pol. Dr. Dedi Prasetyo, M.Hum, M. Si, MM, menerangkan bahwa Polri tengah melakukan pendalaman aliran dana dari luar negeri yang diterima oleh Saefullah alias Daniel seorang Mastermind Jamaah Ansharut Daulah (JAD) di Indonesia.

“Tentunya bekerjasama dengan PPATK dan beberapa negara untuk melacak aliran dana serta keterlibatan WNA di beberapa negara tersebut yang terkait dengan jaringan ISIS,” jelas Karo Penmas Divisi Humas Polri, Rabu (24/07/2019).

Info

Selain itu, Polri juga menegaskan tidak menutup kemungkinan bila ada WNI (Warga Negara Indonesia) yang menyumbangkan dananya untuk JAD. “(Potensi WNI sebagai penyandang dana) sedang didalami dulu. Karena masih ada beberapa DPO(Daftar pencarian orang) yang ada di dalam negeri maupun luar negeri,” jelas Karo Penmas Divisi Humas Polri.

Sebelumnya, Polisi berhasil membongkar aliran dana dari luar negeri, yakni dari beberapa orang yang berada di 5 Negara yang ditujukan untuk mendanai kelompok teroris Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan Mujahidin Indonesia Timur (MIT). Dana tersebut dikirim kepada teroris Saefulah dan anggota Jamaah Ansharut Daulah (JAD) di Sumatera Barat Novendri.

S diduga menginstruksikan Abu Saidah untuk memberikan uang dari S kepada terduga teroris N. Uang itu digunakan untuk kebutuhan perakitan bom. Selain itu, S juga berperan mendanai dua terduga pelaku bom bunuh diri di gereja Katolik Pulau Jolo, Filipina, pada 27 Januari 2019.

Inisial kedua pelaku itu adalah RRZ dan UHS yang merupakan anggota JAD Makassar. Mereka adalah pasangan suami-istri. Karena mengetahui rencana aksi tersebut dan sudah memberikan dana untuk 2 tersangka ke Filipina dari Makassar,” ucapnya.

Kedua terduga pelaku mendapatkan dana dari S melalui terduga teroris AB dan Y. AB merupakan WNI asal Makassar, yang diduga berada di Filipina Selatan. AB berperan untuk mengatur kepergian dua terduga pelaku.

BACA JUGA:  Harap Pilkada Berjalan Aman dan Damai, Kapolres Maluku Barat Daya Ajak Timses Bapaslon Taati Protokol Kesehatan

Sementara itu, Y yang merupakan anggota JAD Kalimantan Timur diamankan di Malaysia pada awal Juni 2019. Y diduga sebagai penghubung antara Indonesia dan Filipina.

Kemudian, S diduga mengatur keberangkatan MA dan 11 WNI lainnya untuk berangkat ke Khurasan. MA telah dideportasi dari Bangkok, Thailand, pada 13 Juni, kemudian diciduk aparat di Bandara Kualanamu, Medan. Polri pun akan bekerja sama dengan kepolisian dari negara lain untuk mengungkap jaringan tersebut.

“Densus 88 bekerja dengan beberapa kepolisian seperti PDRM, kepolisian Filipina, Afganistan, termasuk beberapa negara lain seperti AFP, Amerika Serikat, dan sebagainya,” tutur Karo Penmas Divisi Humas Polri.

loading...